Stakeholder Management Pada Situs Warisan Budaya

Main Article Content

Rifa Jauza Fadilah
Ina Nuraeni
Ibnu Sholeh
Any Ariani Noor
Hennidah Karmawati

Abstract

Candi Borobudur adalah salah satu destinasi wisata yang menjadi World Heritage Site (WHS) yang ditetapkan oleh UNESCO. Sebagai WHS tentunya pengelolaan candi Borobudur ini tidak terpaku pada bidang pariwisata saja, namun diiringi dengan pelestarian cagar budaya. Kedua hal ini tentunya saling bertolak belakang. Pada awal pandemi, candi Borobudur sempat ditutup dengan tujuan pelestarian. Hal ini memberikan dampak besar bagi stakeholders seperti masyarakat, HPI, dan juga PT TWC. Karena jumlah wisatawan yang berkurang mengakibatkan penurunan pendapatan bagi stakeholders tersebut. Penelitian ini fokus membahas mengenai stakeholder management di situs warisan dunia. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan wawancara, observasi dan kepustakaan. Hasil yang didapatkan yaitu terdapat 6 stakeholders yang terlibat dalam program ini dan memiliki perannya masing masing. PT TWC berperan sebagai pengelola zona 2 pada bidang pariwisata, MCB berperan sebagai pengelola zona 1 dalam hal pelestarian cagar budaya, HPI berperan sebagai pemandu wisata, masyarakat berperan sebagai pengrajin sandal upanat, dan media berperan menyebarkan dan mempromosikan candi Borobudur. Penelitian ini memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan manajemen pemangku-kepentingan khususnya dalam pengelolaan situs warisan dunia.  Hasilnya juga diharapkan membantu para pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi kebutuhan dan harapan mereka dalam pengelolaan situs warisan dunia tersebut.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section
Articles

References

Handayani, F., & Warsono, H. (2017). Analisis Peran Stakeholders Dalam Pengembangan Objek Wisata Pantai Karang Jahe di Kabupaten Rembang. Ilmu Administrasi Publik, 6(3), 1–13.

Kemendikbud.go.id. (2022). Upanat, Sandal Khusus yang Dirancang sebagai Upaya Pelestarian Candi Borobudur. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/02/upanat-sandal-khusus-yang-dirancang-sebagai-upaya-pelestarian-candi-borobudur

Ma’arif, S. (2009). Makalah Pengelolaan Pulau Terluar dalam Manajemen Pulau Terluar.

Mamik. (2015). Metode Kualitatif (M. K. Dr. M. Choiroel Anwar, SKM (ed.)). Zifatama.

Petrova, P., & Hristov, D. (2006). Collaborative Management and Planning of Urban Heritage Tourism: Public Sector Perspective. Tourism, 113(November 2012), 101–113. https://doi.org/10.1002/jtr

Puspitasari, A. Y., & Ramli, W. O. S. K. (2018). Masalah Dalam Pengelolaan Kota Lama Semarang Sebagai Nominasi Situs Warisan Dunia. Jurnal Planologi, 15(1), 96. https://doi.org/10.30659/jpsa.v15i1.2764

Seyfi, S., Michael Hall, C., & Fagnoni, E. (2019). Managing World Heritage Site stakeholders: a grounded theory paradigm model approach. Journal of Heritage Tourism, 14(4), 308–324. https://doi.org/10.1080/1743873X.2018.1527340

Sugiyono, Prasetyoko, Y. H., & Sutanto. (2007). Evaluasi Kebijakan Pemanfaatan Kawasan Borobudur Tinjauan Aspek Peraturan Perundangan-Undangan. Magelang : BALAI KONSERVASI PENINGGALAN BOROBUDUR.

Supriono, F., Farid, M., Caniago, A., & Gosal, P. H. (2020). Development of Cultural Heritage Tourism through the Synergy of Stakeholders: A Study of Regional Cultural Heritage Tourism in Indonesia. 83.

Wiyonoputri, T. W. (2005). Dampak Kegiatan Pariwisata Budaya Terhadap Kehidupan Komunitas Di Kampung Naga.

Yang, C. H., Lin, H. L., & Han, C. C. (2010). Analysis of international tourist arrivals in China: The role of World Heritage Sites. Tourism Management, 31(6), 827–837. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2009.08.008